Pilihan Terapi untuk Menangani Kelainan Tulang Belakang
Kelainan tulang belakang tidak selalu langsung terlihat dari luar. Pada banyak orang, keluhan diawali rasa pegal di punggung, nyeri pinggang, atau cepat lelah saat berdiri
Online
Kelainan tulang belakang tidak selalu langsung terlihat dari luar. Pada banyak orang, keluhan diawali rasa pegal di punggung, nyeri pinggang, atau cepat lelah saat berdiri
Kelainan tulang belakang tidak selalu langsung terlihat dari luar. Pada banyak orang, keluhan diawali rasa pegal di punggung, nyeri pinggang, atau cepat lelah saat berdiri lama, lalu berlanjut menjadi gangguan postur seperti tulang belakang bengkok

Nyeri tulang belakang jadi keluhan umum pekerja kantor, atlet, hingga lansia di Jakarta. Duduk lama, postur buruk, atau cedera sepele picu masalah seperti pinggang pegal, leher kaku, atau kesemutan saraf. Menurut Kemenkes, prevalensi low back

Saraf kejepit sering dimulai dari pegal ringan atau kesemutan yang diabaikan, tapi bisa berkembang jadi nyeri hebat yang ganggu aktivitas. Kondisi ini terjadi saat saraf di tulang belakang tertekan oleh disc hernia, tulang, atau jaringan

Nyeri punggung bawah sering membuat aktivitas sehari-hari terganggu, terutama bagi pekerja kantor yang duduk lama atau atlet yang aktif bergerak. Masalah seperti pinggang pegal, postur membungkuk, atau ketidaknyamanan ini kerap diabaikan hingga menjadi kronis. Padahal,

Nyeri punggung bawah kronis dialami 80% orang dewasa seumur hidup, sering akibat postur buruk atau aktivitas harian. Pekerja kantor duduk lama dan atlet berisiko tinggi gangguan tulang belakang. Terapi tulang belakang non-operatif tawarkan solusi alami.

Skoliosis sering muncul diam-diam, menyebabkan kelengkungan tulang belakang ke samping seperti huruf C atau S. Banyak pekerja kantor dan atlet baru sadar saat postur membungkuk mengganggu aktivitas harian. Prevalensi di Indonesia mencapai 2-4% populasi, terutama

Nyeri punggung atau postur membungkuk sering dialami pekerja kantor dan atlet akibat skoliosis ringan yang dibiarkan. Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang seperti huruf C atau S, dengan prevalensi 3-5% di Indonesia menurut data WHO dan

Mendengar diagnosis skoliosis pada anak usia 10-15 tahun sering kali membuat orang tua merasa cemas dan bingung. Pertanyaan seperti “apakah akan bertambah parah?”, “haruskah pakai brace?”, atau “perlukah operasi?” mungkin muncul dalam pikiran dan menimbulkan

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang tidak normal, sering kali membentuk huruf S atau C, dan dapat memengaruhi postur serta fungsi tubuh sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya mengubah tampilan fisik, tapi juga mengganggu keseimbangan otot

Banyak orang, terutama orang tua, masih percaya bahwa skoliosis disebabkan oleh duduk membungkuk atau membawa tas berat. Padahal, fakta medis menunjukkan kondisi ini jauh lebih kompleks dan sering tanpa penyebab tunggal yang jelas. Menurut data

Banyak orang mengira penyebab skoliosis adalah duduk membungkuk atau tas berat, tapi itu mitos. Skoliosis adalah kelengkungan lateral tulang belakang struktural, sering progresif. Di Indonesia, prevalensi skoliosis idiopatik remaja 2-4%, seperti data Kemenkes dan studi

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang ke samping yang abnormal, sering kali lebih dari 10 derajat sudut Cobb. Kondisi ini paling umum menyerang anak usia 10-15 tahun, terutama remaja perempuan dengan rasio hingga 1:4,7 dibanding laki-laki.